Contoh Study Kasus AHP/Expert Choice
Nama: Muhammad Faisal Ramadhan
Kelas: 2TA02
NPM: 14315567
STUDY KASUS
Sebagai studi kasus, dilakukan pengumpulan data tentang
nilai kepentingan faktor-faktor yang berpengaruh dalam hal melakukan perjalanan
ke kampus dengan cara wawancara berkuisioner, sebanyak 30 responden.
Responden dipilih secara acak sederhana dari data mahasiswa UK Petra. Data
tersebut berupa data perbandingan berpasangan dengan skala 1 – 9. Data-data
yang terkumpul tersebut diolah dengan metode AHP yang pengolahannya
menggunakan program Expert Choice. Data tersebut sebelumnya diuji
terlebih dahulu inconsistency ratio-nya (CR) yaitu data yang CR-nya
kurang dari 10% yang dianggap konsisten. Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan,
dilakukan analisa sensitivitas terhadap prioritas pemilihan alternatif moda
yang ada. Analisa sensitivitas ini dilakukan dengan cara trial dan error pada
masing-masing faktor. Dengan cara ini dapat dilihat kecenderungannya sehingga
dapat diketahui pengaruhnya terhadap pergeseran prioritas pemilihan alternatif
moda.
Merujuk kembali ke gambar 1, diperlihatkan faktor-faktor dan
alternatif-alternatif yang tersusun dalam struktur hirarki. Sebagai
tujuan, adalah pemilihan moda pada level 3. Level 1 menyatakan tujuan, sedangkan
level 2 menunjukkan faktor-faktor yang berpengaruh
Faktor-faktor yang berpengaruh dapat dijelaskan sbb.:
1. Faktor Aman
Menunjukkan keamanan dari gangguan selama perjalanan, yaitu rasa aman dari
adanya tindakan kriminalitas, keselamatan dari resiko kecelakaan dan dari
gangguan lingkungan sekitar yaitu gangguan sebelum dan sesudah melakukan
perjalanan.
2. Faktor NyamanMerujuk
kepada fasilitas yang tersedia selama dalam perjalanan, misalnya perlindungan
dari cuaca, tersedianya fasilitas AC, tempat duduk yang nyaman, privasi dari
orang lain (yaitu kebebasan untuk melakukan segala sesuatu selama
dalam perjalanan) dan suasana tenang selama perjalanan.
3. Faktor BiayaMeliputi
semua biaya langsung yang dikeluar- kan untuk melakukan perjalanan, misalnya
biaya bahan bakar minyak dan ongkos untuk angkutan umum, biaya parkir
kendaraan, dan lain-lain. Biaya tidak termasuk modal pembelian mobil, dan
pemeliharaan.
4. Faktor
WaktuMenyatakan lama waktu untuk melakukan perjalanan, yang di dalamnya
mengandung sub faktor ketepatan waktu sampai tujuan, kelancaran selama
perjalanan dan kebebasan melakukan perjalanan kapan saja.
Dengan mengetahui faktor-faktor yang ber- pengaruh serta
bobotnya, diharapkan dapat dianalisa program-program yang bertujuan untuk
mengurangi kebutuhan lahan parkir di UK Petra.
Dari analisa AHP yang dilakukan, seperti ditunjukkan dalam
gambar 2, responden menganggap faktor aman sebagai prioritas utama, yaitu
49,3% atau dua kali lebih penting dari faktor waktu, dan empat kali lebih
penting dari faktor biaya dan kenyamanan.
Analisa AHP mengetahui prioritas pemilihan alternatif moda
berdasarkan semua pertimbang-an faktor yang dipilih, seperti yang diperlihatkan
pada gambar 2.
Untuk prioritas pemilihan alternatif berdasarkan faktor
keamanan ini saja, responden lebih menyukai jalan kaki dari pondokan sebagai
pemilihan alternatif moda yaitu 31,8%. Sedangkan untuk urutan prioritas
terakhir yang menjadi pilihan responden adalah angkutan umum (4,2%), berarti
pemilihan jalan kaki dari pondokan hampir 8 kali pemilihan angkutan umum.
Ditinjau dari faktor kenyamanan saja, mobil pribadi menjadi
prioritas utama oleh responden dalam pemilihan alternatif moda yaitu sebesar
33,8%. Sedangkan angkutan umum mempunyai bobot paling kecil yaitu 3,5%. Berarti
pemilihan mobil pribadi 10 kali pemilihan angkutan umum. Untuk faktor
biaya, biaya perjalanan sangat diutamakan oleh responden daripada biaya parkir,
yaitu lima kali lebih penting. Ternyata jalan kaki dari pondokan menjadi
alternatif pemilihan moda yang dominan oleh responden dibandingkan alternatif
yang lain, yaitu sebesar 40,2%. Mobil pribadi merupakan pilihan terakhir
sebesar 4,6%. Jadi pemilihan alternatif jalan kaki dari pondokan hampir 9 kali
pemilihan mobil pribadi.
Sedangkan ditinjau dari faktor waktu saja, jalan kaki dari
pondokan dinilai oleh responden sebagai alternatif favorit yaitu sebesar 38,4%,
sedangkan angkutan umum merupakan pilihan terakhir responden dalam melakukan
perjalanan ke kampus sebesar 3,6%. Jadi pemilihan jalan kaki dari
pondokan 11 kali pemilihan angkutan umum. Alternatif jalan kaki dari pondokan
merupakan alternatif terpenting bagi responden dalam hal melakukan perjalanan
ke kampus. Hal ini dikarenakan dari berbagai faktor perjalanan, alternatif
jalan kaki dari pondokan mempunyai kelebihan seperti waktu tempuh yang singkat,
biaya perjalanan yang murah, dan tingkat keamanan yang cukup baik.
Pemilihan mobil pribadi dan carpool dinilai mempunyai prioritas yang
hampir sama dalam hal melakukan perjalanan ke kampus, disebab-kan adanya faktor
waktu dan kenyamanan yang menunjang pemilihan mobil pribadi sedangkan untuk
pemilihan carpool ditunjang adanya faktor keamanan dan biaya yang
dinilai lebih aman dan murah oleh responden daripada mobil pribadi.
Untuk pemilihan angkutan kampus yang pada kenyataannya belum
ada, responden diberi gambaran berupa mini bus kampus dengan fasilitas AC,
tempat duduk yang cukup bersih dan nyaman, dan rute perjalanan yang
disesuai-kan dengan jam kuliah dan tempat tinggal responden. Ternyata
responden cukup menang-gapi adanya mini bus kampus tersebut, karena dianggap
cukup aman dan cukup murah. Sedangkan angkutan umum menjadi pilihan terakhir
bagi responden dalam hal melakukan perjalanan ke kampus. Hal
ini disebabkan situasi yang kurang aman, kenyamanan yang kurang, waktu yang
tidak efisien dan biaya perjalanan yang cukup tinggi.
Untuk menerapan kebijakan yang sesuai dengan tujuan maka
dilakukan analisa sensitivitas AHP terhadap masing-masing faktor dari setiap
moda yang diteliti. Model (3) hingga (8) merupakan model analisa AHP yang dapat
dipergunakan untuk mengetahui kecenderungan pemilihan masing- masing moda
berdasarkan perubahan setiap faktornya.
YMP = 0.180 AMAN + 0.342 NYAMAN +0.049 BIAYA + 0.193
WAKTU (3)
YCP = 0.198 AMAN + 0.228 NYAMAN +0.107 BIAYA + 0.088
WAKTU (4)
YAK = 0.172 AMAN + 0.096 NYAMAN +0.120 BIAYA + 0.051
WAKTU (5)
YAU = 0.045 AMAN + 0.035 NYAMAN +0.096 BIAYA + 0.036
WAKTU (6)
YSM = 0.087 AMAN + 0.096 NYAMAN +0.228 BIAYA + 0.248
WAKTU (7)
YKO = 0.318 AMAN + 0.202 NYAMAN +0.401 BIAYA + 0.383
WAKTU (8)
Dimana,Yi = Prosentase dari alternatif moda iMP
= Mobil pribadiCP = CarpoolAK = Angkutan
kampusAU = Angkutan umumSM = Sepeda motorKO
= Jalan kaki dari pondokanAMAN, NYAMAN, BIAYA, WAKTU = Besarnya
prosentase dari masing-masing factor. Berdasarkan rumus yang diperoleh maka
dilakukan analisa sensitivitas yaitu dengan mengubah bobot nilai masing-masing
faktor sehingga didapat perubahan bobot nilai masing- masing moda.
Pada tabel 5 dinyatakan hasil analisa sensitivitas terhadap
faktor aman dimana dilakukan pengurangan bobot nilai faktor aman dalam arti
keamanan ditingkatkan sehingga faktor aman tidak menjadi prioritas utama. Untuk
setiap pengurangan sebesar 10% faktor aman, terdapat peningkatan
sebesar 0,11% pada moda mobil pribadi, sedangkan angkutan kampus
mengalami penurunan sebesar 0,94%. Disini terlihat bahwa angkutan kampus
dianggap cukup aman oleh responden. Pada tabel 6 dapat diketahui perubahan
bobot nilai masing-masing moda, bila dilakukan analisa sensitivitas pada faktor
waktu. Jika faktor waktu ditingkatkan kepentingannya, misal disiplin
terhadap ketepatan waktu ditingkatkan, maka pemilihan mobil pribadi cenderung
meningkat. Untuk setiap peningkatan 10% terhadap faktor waktu menyebabkan
peningkatan pada pemilihan mobil pribadi sebesar 0,12%. Sedangkan
untuk angkutan kampus mengalami penurunan sebesar 1,03%. Penurunan bobot nilai
pada angkutan kampus menggambarkan bahwa moda tersebut dianggap kurang baik dari
segi waktu. Kebijakan yang dapat diambil sehubungan dengan analisa diatas
adalah : adanya tempat-tempat pemberhentian untuk angkutan kampus yang jelas
dan teratur, disiplin terhadap waktu keberangkatan, rute perjalanan yang banyak
sehingga mudah dicapai oleh responden sehingga dapat meningkatkan pemilihan
alternatif angkutan kampus.
Tabel 7 menunjukkan hasil analisa sensitivitas terhadap
faktor biaya. Untuk setiap 10% peningkatan nilai faktor biaya secara umum,
dapat mengakibatkan penurunan terhadap pemilihan mobil pribadi, yaitu sebesar
1,60% dan 0,09% pada angkutan kampus.
Dari kenyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk
mengurangi kebutuhan akan lahan parkir yang berarti usaha untuk mengurangi
pemilihan mobil pribadi dan mau beralih ke alternatif moda angkutan kampus,
maka dapat dibuat suatu kebijakan, yaitu : meningkatkan tarif parkir
untuk mobil pribadi. Hasil analisa sensitivitas terhadap faktor nyaman,
dinyatakan dalam tabel 8. Perubahan kepentingan faktor kenyamanan dilakukan
angkutan kampus misalnya dengan peningkatan fasilitas pada angkutan kampus.
Untuk setiap pengurangan 10% (peningkatan fasilitas angkitan kampus 10%),
pemilihan moda mobil pribadi mengalami penurunan yaitu sebesar 1.72%.
Sedangkan pemilihan moda angkutan kampus mengalami kenaikan sebesar 0.22%.
Melihat kenyataan di atas dapat diambil suatu
kebijakan yang dapat mengurangi pemilihan mobil pribadi, seperti: menyediakan
fasilitas musik atau. Televisi sehingga membuat responden lebih dapat menikmati
perjalanan.Dari analisa sensitivitas berdasarkan keempat faktor diatas dapat
dilihat bahwa untuk mengalihkan pemilihan mobil pribadi ke angkut-an kampus
perlu dibuat kebijakan-kebijakan seperti : peningkatan biaya parkir pada
mobil pribadi, penambahan fasilitas musik/televisi pada angkutan kampus, dan
pengaturan rute perjalanan, waktu keberangkatan yang teratur pada angkutan
kampus.
SUMBER;





Komentar
Posting Komentar