IMPLEMENTASI DAN ANALISIS ALGORITMA PENCARIAN RUTE TERPENDEK DI KOTA SURABAYA

Pencarian rute terpendek merupakan suatu  masalah yang paling banyak dibahas dan dipelajari  sejak akhir tahun 1950. Pencarian rute terpendek ini  telah diterapkan di berbagai bidang untuk  mengoptimasi kinerja suatu sistem, baik untuk meminimalkan biaya atau mempercepat jalannya suatu proses. Salah satu aplikasi pencarian rute terpendek yang paling menarik untuk dibahas adalah pada masalah transportasi. Dalam pencarian rute terpendek, penghitungan dapat dilakukan dengan beberapa macam algoritma. Secara garis besar algoritma penghitungan rute terpendek dibagi menjadi dua kelas berdasarkan metode pemberian labelnya, yaitu algoritma label setting dan algoritma label correcting[3]. Metode label setting menentukan label jarak sebagai jarak permanen pada setiap iterasinya, sedangkan metode label correcting menentukan label jarak sebagai temporal pada setiap iterasi sampai langkah akhir ketika semua node telah melewati proses pemeriksaan, maka labelnya akan ditentukan sebagai permanen. algoritma dijkstra adalah salah satu algoritma penghitungan rute terpendek kelas label Setting, sedangkan pada kelas label correcting terdapat algoritma floyd dan algoritma two-queues. Ketiga algoritma ini akan dibandingkan performanya, dan juga akan dievaluasi untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi performa dari masing-masing algoritma. Jaringan jalan yang akan digunakan sebagai bahan penghitungan adalah jaringan jalan yang ada di kota Surabaya. Algoritma yang paling cepat dalam melakukan penghitungan akan dipakai dalam aplikasi berbasis teknologi Wireless Application

         Implementasi dan Analisa Algoritma Pencarian Rute Terpendek di Kota Surabaya (Yudhi Purwananto)
Protocol (WAP) untuk mendukung faktor mobilitas dan kemudahan mengakses dari aplikasi. WAP
adalah sebuah fasilitas yang memungkinkan mengakses internet melalui alat-alat komunikasi elektronik tanpa kabel (mobile device). FasilitasWAP biasa terdapat pada handphone atau PDA (Personal Digital Assistance). Diharapkan dengan digunakannya fasilitas WAP, pengguna bisa mendapatkan segala macam dan bentuk informasi yang dibutuhkan dengan mudah dan cepat, termasuk informasi tentang transportasi.

 Teori Dasar Graph dan Pencarian Rute Terpendek
Graph terdiri dari sekumpulan node yang
dihubungkan dengan sekumpulan arc. Notasi untuk
mendeskripsikan suatu graph adalah , dimana
adalah sekumpulan node (vertex) dan adalah
sekumpulan dari arc (edge) dengan nilai-nilai yang
berasosiasi pada setiap node. Nilai-nilai yang
berasosiasi itu adalah jumlah node, jumlah arc, dan
panjang dari arc yang menghubungkan antara node i
dan j yang dinotasikan sebagai d(i,j). Suatu jaringan
dapat direpresentasikan sebagai graph. Beberapa
contoh model jaringan dalam dunia nyata yang dapat
direpresentasikan sebagai graph adalah desain
jaringan pipa minyak, jaringan fisik seperti jalan, rel
kereta api, atau rute pesawat terbang, jaringan kabel
listrik, dan sebagainya. Gambar 1 menunjukkan
sebuah jaringan fisik jalan di kota Surabaya yang
sebagian dimodelkan dengan graph G terdiri dari
delapan node = {A,B,C,D,E,F,G,H}.
Gambar 1. Diagram Data Jalan Kota Surabaya
Proses penghitungan rute terpendek adalah
proses mencari jarak terpendek atau biaya terkecil
suatu rute dari node awal ke node tujuan dalam
sebuah jaringan. Nilai d(i) merupakan nilai jarak
atau bobot total terkecil dari suatu rute.
Pada proses penghitungan rute terpendek
terdapat dua macam proses yaitu proses pemberian
label dan proses pemeriksaan node. Metode
pemberian label adalah metode untuk memberikan
identifikasi pada setiap node dalam jaringan. Pada
sebagian besar algoritma penghitungan rute
terpendek, terdapat 3(tiga) label informasi yang
dikelola untuk setiap node i pada proses pemberian
label yaitu : label jarak d(i), parent node p(I,) dan
status node S(i).
Proses pemberian label berjalan seiring dengan
proses scanning (pemeriksaan). Proses pemeriksaan
node adalah proses membandingkan jarak antara
node awal s dengan node i melalui node j sebagai
node lain dalam suatu jaringan.
Gambar 2. Graph dari Diagram Data Jalan Kota
Surabaya
Pada Gambar 2, node A akan dianggap sebagai
node awal dan node G dianggap sebagai node
tujuan. Node A mempunyai label status r
(permanen), label jarak d(s) = 0, dan label parent
p(s) = 0, oleh karena itu node A dianggap sebagai
node awal. Node B dan node F mempunyai label
status t (temporal) yang berarti node tersebut telah
melalui proses pemberian label tetapi belum melalui
proses pemeriksaan. Node C, D, E dan G
mempunyai label status u (unreached), label
jaraknya d(i) = ~, dan label parent p(i) = null, karena
node-node tersebut belum melalui proses pemberian
label dan proses pemeriksaan. Pada proses
pemeriksaan node B dan node F, akan dipilih node
dengan nilai bobot yang terkecil yaitu node F, oleh
karena itu, maka label status node F, s(b), akan
berubah menjadi r, label parent, p(b), menjadi A,
dan label jaraknya, d(b) menjadi 8. Proses ini akan
terus berlangsung sampai node tujuan tercapai.

Algoritma Dijkstra
Algoritma dijkstra pertama kali dikembangkan
oleh E.W. Dijkstra. Pada perkembangannya,
algoritma ini menggunakan struktur data yang
berbeda-beda.
Pada umumnya, graph setidaknya mempunyai
satu arc penghubung dari satu node ke node yang
lain, sehingga konsekuensinya |E|=| |2. Jika masing-
masing node terhubung dengan semua node lainnya
pada suatu jaringan, maka |E|= (| |2). Graph dengan
(| |2) disebut dengan dense graph. Pada dunia
nyata nilai =(| |) karena tidak semua node
terhubung dengan masing-masing node lainnya.
Keadaan ini disebut dengan sparse graph.
Untuk merepresentasikan suatu graph dapat
digunakan matriks dua dimensi. Untuk tiap node
(i,j), nilai bobotnya dapat dimasukkan ke dalam aij.
Untuk node yang tidak saling terhubung, nilai
bobotnya dapat diisi dengan tak terhingga. Proses ini
96
Jurnal Penelitian dan Pengembangan TELEKOMUNIKASI, Desember 2005, Vol. 10, No. 2
memerlukan waktu (| |2) dengan jumlah memori
yang dibutuhkan sebanyak (| |2). Penggunaan
matriks ini cocok untuk merepresentasikan dense
graph (lihat Gambar 3), sedangkan untuk sparse
graph representasi yang cocok adalah menggunakan
adjacent list (lihat Gambar 4), dimana suatu graph
akan direpresentasikan secara linier, sehingga
memori yang dibutuhkan untuk merepresentasikan
sparse graph menggunakan adjacent list

Kesimpulan
SBY 4 (meter) SBY 5 (meter) SBY 6 (meter)
DJIKS + arr 18.682 5.096 3.692
DJIKS + PQ 18.682 5.096 3.692
FLOYD 18.682 11.124 9.086
2-QUEUE 18.682 5.096 3.692
DJIKS + arr 22.339 8.085 4.650
DJIKS + PQ 22.339 8.085 4.650
FLOYD 22.339 11.024 4.650
2-QUEUE 22.339 8.085 4.650
DJIKS + arr 14.229 13.393 5.096
DJIKS + PQ 14.229 13.393 5.096
FLOYD 14.229 13.393 8.729
2-QUEUE 14.229 13.393 5.096
DJIKS + arr 25.040 13.137 7.921
DJIKS + PQ 25.040 13.137 7.921
FLOYD 25.040 13.330 7.921
2-QUEUE 25.040 13.137 7.921
DJIKS + arr 29.542 15.288 7.129
DJIKS + PQ 29.542 15.288 7.129
FLOYD 29.542 18.227 7.129
2-QUEUE 29.543 15.288 7.129
DJIKS + arr 29.989 17.998 8.729
DJIKS + PQ 29.989 17.998 8.729
FLOYD 29.989 17.998 8.729
2-QUEUE 29.989 18.314 8.729
DJIKS + arr 30.707 16.748 9.956
DJIKS + PQ 30.707 16.748 9.956
FLOYD 30.707 16.748 15.892
2-QUEUE 30.707 16.748 9.956
Hangtuah ke Wonokromo
Iskandar Muda ke Kebonsari
Hangtuah ke Kandangan Jaya
Blauran ke Mayjen Sungkono
Blauran ke Gajahmada
Pabean ke Kedung Mangu
Blauran ke Rungkut Madya
101
           

Daftar Pustaka
[1] Benjamin Zhan, F., 2000, Three Fastest
Shortest Path Algorithms on Real Road
Networks: Data Structures and Procedures,
Journal of Geographic Information and
Decision Analysis, vol.1, no.1, pp. 69-82
[2] Purba, Jan Waren, 2003, Sistem Informasi
Geografis Berbasis Web Dengan Menggunakan
Teknologi Scalable Vector Graphic (SVG) Studi
Kasus Pencarian Lokasi Pelayanan Kesehatan
Terdekat, Tugas Akhir : Jurusan Teknik
Informatika Fakultas Teknologi Informasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya
[3] Zhan, F.B., Noon, C.E, 2000, A Comparison
Between Label-Setting and Label Correcting
Algorithms for Computing One-to-One Shortest
Path, Journal of Geographic Information and
Decision Analysis, Vol. 4 No. 2.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

METODE BIG M

Tugas 4 Aspek Penataan Ruang dan Perijinan untuk melaksanakan Proyek Pembangunan (12)