Sistem Proposal Untuk Tugas Akhir
PONDASI BANGUNAN DENGAN KETAHANAN GEMPA
DISUSUN OLEH
:
MUHAMMAD
FAISAL RAMADHAN
BAB 1
1.1 Latar Belakang Masalah
Konsep dari
bangunan tahan gempa bumi pada dasarnya adalah membuat seluruh bagian rumah
menjadi satu kesatuan yang utuh, yang tidak bisa lepas atau runtuh akibat gempa
bumi. Penerapan konsep rumah anti gempa antara lain dengan cara membuat
sambungan yang kuat diantara berbagai bagian rumah serta pemilihan bahan
bangunan dan pengerjaan yang tepat. Salah satu komponen penting dalam pembuatan
bangunan anti gempa adalah pondasi. Pada umumnya pondasi rumah tahan gempa
menggunakan sistem pondasi batu kali yang menerus, yaitu hubungan antara
pondasi rumah dengan sloof menggunakan angker setiap jarak setengah meter. Hal
ini bertujuan agar ada keterikatan antara pondasi rumah dengan sloof, sehingga
ketika terjadi gempa ikatan antara pondasi dengan sloof tidak terlepas. Ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat pondasi tahan gempa dari
batu kali , Fungsi pondasi yang terutama adalah meyebarkan beban bangunan ke
tanah. Jadi pastikan tanah dimana pondasi dibuat memiliki kestabilan dan
kekuatan yang cukup keras. Bila dirasa kurang keras dan kurang stabil maka
diperlukan pekerjaan pendahuluan untuk memperkuat lapisan tanah dasar untuk
pondisi. Pada saat setelah penggalian tanah untuk konstruksi pondasi telah
selesai disarankan untuk membiarkan selama beberapa hari agar tanah cukup padat
dengan cara menyiram dan memadatkannya secara manual. Bila tidak cukup padat
bisa menambahkan lapisan sirtu (pasir batu) ke lapisan dasar pondasi dan
memadatkannya menggunakan stamper agar lapisan dasar tanah untuk pondasi
benar-benar keras.
Metode
pondasi untuk menahan gempa, Pondasi terletak lebih
dari 45 cm dari muka tanah,
Pondasi batu kali sekurang-kurangnya memiliki kedalaman 45 cm dari muka
tanah untuk bangunan satu lantai. Sedangkan untuk bangunan rumah dua lantai
maka sekurang-kurangnya memiliki kedalaman hingga 60 cm agar mampu menahan
beban bangunan diatasnya. Bisa saja
bangunan dua lantai menggunakan pondasi batu kali dengan kedalaman 45 cm namun
di titik tertentu seperti lokasi kolom dan pertemuan dinding sebaiknya
ditambahkan pondasi telapak atau pondasi sumuran dibawahnya.
Pondasi dibuat menerus
Pondasi batu kali yang dirancang
tahan gempa harus dibuat menerus tanpa terputus. Seringkali demi menghemat
material pemborong atau tukang memotong lajur pondasi dibawah pintu dengan
alasan bagian pondasi dibawah kusen pintu tidak menahan beban rumah. Memang
benar tidak menahan beban bangunan, namun dari aspek ketahanan terhadap gempa
bumi maka lajur pondasi yang terputus akan berakibat buruk pada bangunan karena
getaran yang terjadi saat gempa tidak tersalurkan dan tersebarkan secara merata
ke seluruh bagian bangunan. Akibatnya sering timbul penurunan pondasi secara
lokal yang akan membuat tembok bangunan retak atau lebih buruk lagi roboh.
Membuat balok pengikat
pondasi (sloof)
Setelah badan pondasi batukali
sudah dibuat maka langkah selanjutnya adalah membuat balok pengikat pondasi
(sloof) yang terbuat dari beton. Fungsi sloof ini mendistribusikan beban
bangunan secara merata ke badan pondasi. Penggunaan sloof tidak hanya berlaku
pada pondasi menerus tapi juga pada pondasi stempat dengan tujuan yang kurang
lebih sama. Pada pondasi batu kali, badan sloof perlu diikat dengan angker di
sepanjang jarak setengah meter agar kedudukan sloof benar-benar kokoh diatas
pondasi.
Pondasi, sloof, dan
kolom terikat satu sama lain
Agar rumah anti gempa maka
pastikan pondasi, sloof, dan kolom benar-benar terintegrasi dengan kokoh dengan
saling terikat satu sama lain khususnya pada pembesian sehingga saat gempa
terjadi ke semua komponen kontruksi tersebut dapat menahan getaran yang timbul
dan mendistribusikannya secara merata ke bagian konstruksi lainnya. dan satu
hal yang perlu diperhatikan dalam proses pembuatannya pastikan bahwa adukan
atau mortar yang digunakan memiliki campuran yang baik dan mutu beton yang
digunakan minimal K-125
Upaya
yang dilakukan untuk mencari nilai gaya gempa yang perlu digunakan untuk
mendesain pondasi bangunan sebenarnya tidak ada jawaban yang pasti karena baik ASCE, NEHRP, dan SNI 03-1726-2012
merekomendasikan nilai gaya gempa yang berbeda – beda. ASCE 7-10 Section
C12.13.3 merekomendasikan nilai gaya gempa yang direduksi dengan faktor R,
Sementara itu NEHRP Resource Paper 8 merekomendasikan nilai gaya gempa yang
dikalikan faktor 1.0 – 2.0 bergantung kepada nilai R dari superstructure
diatasnya. Nilai gaya gempa yang lebih tinggi dari ASCE dilakukan karena
mempertimbangkan kerusakan pada pondasi lebih sulit diperbaiki dan memakan
biaya yang besar. Nilai faktor gaya gempa yang bersesuaian dengan nilai R
superstructure digunakan pula untuk mempertimbangkan daktalitas dan faktor kuat
lebih dari pondasi yang dianggap sama baik untuk struktur dengan special seismic
detailing maupun ordinary seismic detailing. Untuk gaya gempa rekomendasi dari
SNI 03-1726-2012, memang rasanya belum jelas dijabarkan. Pasal 7.1.5 menjelaskan bahwa struktur bawah
harus lebih kuat dari struktur atas, namun belum jelas harus sekuat apa. Di
Jakarta seingat penulis kesepakatannya untuk gaya gempa untuk struktur bawah
adalah gaya gempa struktur atas dikalikan dengan faktor 1.60
Dari perbedaan – perbedaan
tersebut, menurut penulis pendekatan NEHRP dalam mendesain pondasi adalah yang
lebih rasional. Rasanya kurang lengkap kalau hanya membicarakan tentang beban
gempa untuk pondasi tanpa melihat metode desainnya. Untuk di US pembahasan
tentang desain pondasi dapat di lihat di NEHRP, di mana pada penjelasannya
memang direkomendasikan menggunakan metode LRFD dibandingkan allowable stress.
Kalau menurut penulis memang rasanya agak kurang dapat diterima jika untuk
kasus extreme seperti gempa ditinjau hanya dalam kondisi service, karena ambang
penerimaan terhadap kerusakan untuk kondisi gempa pasti lebih tinggi.
Untuk kapasitas lateral pondasi
dalam lebih lagi, agak aneh kalau hanya ditinjau dari deformasi lateral
maksimum pile, karena umumnya bangunan tidak sensitif terhadap deformasi
lateral permanen di base, bangunan lebih sensitif jika ada rotasi permanen di
pondasi. Kalau kita tinjau di SEAOC Blue Book chapter foundation, terlihat
bahwa yang direkomendasikan untuk kapasitas lateral pile benar – benar kondisi
ultimate
1.2 Perumusan Masalah
1. Apakah struktur dan pondasi bangunan memiliki kapasitas dalam menahan gempa?
1.3 Tujuan
Penulisan
1. Menentukan model pondasi dalam merespon gempa
1.4 Batasan Penulisan
1. Menganalisa dengan memahami arti dari gempa bumi, dampak yang
ditimbulkannya.
2. Meneliti agar mengetahui bahwa struktur bangunan sangat berpengaruh terhadap
kekuatan suatu bangunan dalam menahan
gempa bumi dan mengetahui
bagaimana perencanaan struktur bangunan sehingga memberi rasa aman dan nyaman
kepada penghuninya.
3. Analisa dilakukan juga dengan mempelajari ilmu tentang desain struktur bangunan tahan gempa pada kondisi wilayah
gempa menengah dan tinggi.
1.5
Sistematika Penulisan
BAB I
PENDAHULUAN
Bab ini
berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, batasan masalah dan
sistematika penulisan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini
berisi hal-hal yang menjadi acuan dalam penyusunan tugas akhir.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini
berisi metode pengumpulan data.
BAB IV DATA
Bab ini berisi
perolehan data, denah, tabel dan rumus yang digunakan.
BAB V
ANALISA PERHITUNGAN
Bab ini
berisi perhitungan analisa daya dukung.
BAB VI
PENUTUP
Bab ini
berisi kesimpulan dan saran yang didapat dari analisa.
BAB II
Gempa bumi
merupakan suatu bencana alam yang disebabkan oleh lempeng-lempeng yang
merupakan bagian dari kerak bumi yang bergerak aktif. Pergerakan itu karena
antara lain oleh air laut. Lempeng-lempeng bumi ini sebenarnya adalah bagian dari
kerak bumi yang terdiri atas berbagai jenis bebatuan
Gempa terjadi karena ada perpindahan massa dalam lapisan batuan bumi.
Kekuatan suatu gempa bergantung pada jumlah energi yang terlepas, saat terjadi
pergeseran dan tumbukan. Pergeseran tersebut memang memungkinkan terjadinya
tumbukan.
Ada kalanya pergeseran itu menyebabkan perubahan bentuk yang tiba-tiba,
sehingga terjadi ledakan dan patahan yang menimbulkan gempa hebat yang disebut
sebagai gempa tektonik. Walaupun gempa tidak dapat kita prediksi, namun kita
dapat meminimalisir dampak yang ditimbulkannya dengan cara membangun rumah
tahan gempa.
Ketika gempa dan tsunami, sebagian besar rumah tradisional (berbahan
kayu) masih tetap berdiri kokoh. Inilah rumah tahan
gempa, bangunan yang ternyata sudah ada di Indonesia sejak zaman dahulu. Rumah
tahan gempa ini dapat dijumpai pada konstruksi bangunan-bangunan adat yang
umumnya berbentuk rumah panggung yang mampu menahan guncangan gempa bumi. Bangunan
sendiri dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni bangunan tradisioal meliputi
balai adat, tempat ibadah, dan rumah vernakular. Rumah vernakular merupakan
bangunan khas dan unik yang diturunkan dari tradisi kuno, memiliki kemampuan
bertahan terhadap lingkungan fisik seperti iklim, gempa dan angin.
Menurut Kepala Pusat Penelitian Gempa
Fakultas Teknik UKI Pinondang Simanjuntak, struktur rancangan pada rumah adat
seharusnya berbentuk simetris dan memiliki tingkat kekakuan yang cukup sehingga
sambungannya tidak longgar, seperti dilansir dalam kompas.com.
Penggunaan bahan material yang ringan
seperti kayu dan bambu memungkinkan bangunan adat tidak mudah roboh karena
memiliki kelenteran terhadap gempa. Selain itu struktur bangunan yang dikaitkan
satu sama lain menggunakan pasak bisa lebih dinamis dan kokoh sehingga tahan
terhadap guncangan gempa.
Masing-masing
daerah di Indonesia memiliki satu atau lebih tipe rumah vernakular yang
dibangun berdasarkan tradisi daerah tertentu yang menunjukkan keanekaragaman
dan kearifan lokalnya. Bahkan kearifan lokal itu juga diadopsi oleh sejumlah
negara seperti Jepang yang hampir semua rumah di sana menggunakan bahan dasar
yang ringan.
Di Indonesia sendiri ada beberapa bentuk
bangunan adat tradisional yang dapat diandalkan untuk menahan guncangan gempa
bumi, Di antaranya
rumah gadang
Pasti sudah banyak yang mengenal
bangunan adat yang berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat ini. Yang paling
dikenal, rumah Gadang memiliki konstruksi atap berbahan ijuk yang melengkung ke
dalam. Pada 2009 lalu saat terjadi gempa, rumah Gadang ini banyak yang tetap
kokoh bertahan kala itu.
BAB III
Metode penulisan
yang digunakan dalam penulisan karya tulis ini adalah metode penulisan studi
pustaka. Metode penulisan studi pustaka adalah metode dengan cara mempelajari
berbagai sumber bacaan yang dikaji dari berbagai sumber baik.
Komentar
Posting Komentar